Pencarian Dan keseimbangan Hidup di Sinau Bareng Mbah Nun

SALIM MBAH NUN : Suasana salim Mbah Nun setelah mengikuti sinau bareng di Desa Deru (06/08)

Oleh Iwan Siswoyo

Lahir di sebuah Desa yang dapat menghadirkan Mbah Nun (panggilan kami kepada Emha Ainun Nadjib) untuk “sinau bareng” menjadi sebuah kebanggaan. Malam ini kedua kalinya saya dapat melihat langsung sosok kharismatik, setelah setahun lalu di Kecamatan gayam Bojonegoro.

Masyarakat sudah memenuhi lapangan “Cok Brosot” Desa Deru Kecamatan Sumberrejo Bojonegoro Jawa timur sejak lepas Isya’. Tidak peduli tua muda, pria wanita semua seperti tumplek blek di lokasi yang berada di sekitar persawahan ini.

Angin cukup kencang berhembus dan sesekali meniup kopyah-kopyah merah putih khas para Maiyah. Dan tidak menyurutkan kenginan Masyarakat untuk dapat melihat langsung sosok Cak Nun. Seperti seorang cucu yang sejak lahir belum pernah digendong embahnya dan hari ini berharap dikudhang.

Kalau sinau bareng pertama kali saya ikuti Mbah Nun berpesan, “Aja nemen-nemen mikir ndonya. Awakmu kabeh kui penghuni Sorga, saiki outbond ning ndonya besok bakal balik ning surga”.  Dan malam ini agak lebih jauh lagi yang dalam ulasannya seperti mengingatkan, bahwa kehidupan itu pencarian dan keseimbangan.

Mbah Nun berpesan untuk sinau bareng ini sebagai bentuk belajar membuka diri, dengan berkumpul, berjamaah untuk menghasilkan kecerdasan kolektif dalam menjalani kehidupan baik di dunia sampai menuju ke-Allah.

“Aku iki dudu panutanmu, gondelono Kanjeng Nabi lan Allah, aja karo liyane, apa maneh Negara” ucapnya dengan lantang mengingatkan kepada ribuan Maiyah. Dia juga mengharap untuk para santri mengenali diri sendiri, dengan bertanya siapa sejatinya kita.

Seperti sinau bareng yang digelar dibeberapa tempat lain, Mbah Nun juga mengajak beberapa orang untuk maju, bahkan naik keatas panggung duduk bersanding dengan beliau. Seolah-olah tanpa ada jarak diantara mereka.

Disini saya fahami bahwa Mbah Nun selalu memberi ruang pada siapapun untuk mengungkap isi benak dan fikiran, bahkan keinginan (sebut nafsu) untuk sekadar “Nembang” dari jenis Rock, Campursari bahkan sampai pop Oldies.

Bagaimana beliau memahami cucu-cucunya yang beliau sebut sesuai dengan pencapaian dan tahapannya. “sinau bengi iki ning kene enek sing wis mlebu semester siji, lara, yo enek sing uga sing katene ndaftar. Dadi ora enek sing salah” ungkapnya yang menjelaskan setelah masuk disesi tanya jawab. ditambahlagi banyak Masyarakat yang hadir dengan menanyakan mulai dari sambat pertanian, sejarah kolerasi Indonesia dan barat, bahkan sampai cara bersuci.

Salah satu warga Desa Sendang agung misalnya, yang dia menanyakan bagaimana hukum dan dalil yang membenarkan kalau orang meninggal setiap malam jum’at pulang untuk minta do’a kepada anak turunnya. Dalam momen ini Mbah Nun menjawab, “Sampean kudune tanya kepencipta lagune, bukan kesaya. Tapi yo gak popolah, kaet biyen aku ancen dadi tukang timpal” ucapnya disambut gerr para Maiyah. Diapun mengingatkan orang jawa itu menyampaikan sesuatu dengan sanepan (tersirat). Yang artinya sebagai bentuk bakti anak kepada orang tua ya harus mendo’akan.

Mbah Nun yang berulang kali menyebutkan bahwa momen malam ini bukanlah pengajian tetapi sinau atau belajar bareng untuk menemui kesejatian diri. “aja bingung melu sapa, tapi ndoleko yang sesuai hati. Dan pemahaman setiap orang itu berbeda jangan memaksa, apalagi pamer tentang Maiyah. Kalau ada yang tanya ya jawab atiku tentrem melu sinau maiyah, wis ngunu ae” ujarnya.

Diapun menambahkan untuk bersifat seperti air. Bagaimana siklus kehidupan air menguap menjadi mendung dan jatuh menjadi hujan, masuk lagi ketanah menghidupi tumbuhan dan pepohonan. “Aja kaya es, asline banyu tapi ketika dipalu akan pecah. Dadi maiyah iku mencair”.

Catatan-catatan yang saya terima malam ini sebenarnya mau saya simpan rapi dalam benak, tapi kalaulah sarujuk dengan penafsiran pembaca dan ikut melihat langsung atau live lewat facebook Kim Deru Maju, syukurlah.

Penulis adalah warga Desa Deru, pegiat kelompok informasi Masyarakat Deru Maju

Updated: August 10, 2018 — 11:44 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kim Deru Maju © 2018 Frontier Theme