Tersadar di Bibir Kawah Gunung Bromo

Penulis ketika mencapai puncak di Bibir Gunung Bromo

Oleh : Iwan Siswoyo

aku sadari perjalanan hidup perlu adanya sebuah impian untuk menapaki sebuah puncak kesuksesan. tak mudah perjalanan itu, penuh liku dan ujian. sesekali kita dibimbangkan, sesekali kita butuh motivasi dari orang lain. belajar adalah bekal dari kehidupan. setibanya diatas kesuksesan kita akan penuh dengan pertanyaan.

Turun dari mobil Hardtop matakupun tertuju pada sebuah gugusan gunung yang penuh dengan manusia. merayap pelan bak semut menuju ke Ratunya. seperti tak ada lelah dengan penuh keyakinan kakipun melangkah masuk kedalam pasir-pasir kering.

sesekali telinga kami mendengar seruan kecil mendesis. “oh inikah yang dinamakan pasir berbisik” gumamku. berbekal sarung kubalutkan keleher dan mulut serta hidung, untuk menjaga dari masuknya debu-debu yang lembut. langkah kamipun gontai padahal baru beberapa meter dari titik dimana kami turun.

“bekatik-bekatik” (ojek kuda) menawarkan jasanya untuk mengantarkanku kedekat puncak gunung Bromo. mungkin mereka kasihan melihat langkah kakiku yang sesekali tak beraturan. bahkan dalam perjalanan ada seorang Bapak bernama Sabar yang tak henti-hentinya menawariku untuk menaiki kudanya. “ayo om, cukup 50 ribu saja sampai atas sana” ujarnya sambil memegang tali kendali dan pecut kecilnya. karena niatku menguji fisik akupun menolak tawarannya.

Pak Sabar setiap harinya memang bekerja sebagai penyedia jasa sewa kuda. rutenya mulai dari Pananjakan 1, pananjakan 2 sampai kawah Gunung Bromo. kuda setianya dia beli dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Jasa sewa kudanya paling ramai pada akhir pekan dan liburan sekolah. untuk sekali berangkat yang jaraknya antara 1 sampai 3 KM dia mematok antara 30 ribu sampai 50 ribu Rupiah. anda harus pintar-pintar tawar untuk menggunakan jasa mereka.

Pura Luhur poten ditengah lautan Pasir Gunung Bromo

sesampai di pura yang berada ditengah-tengah lautan pasir, akupun berhenti sejenak sekadar istirahat dan membeli air minum untuk membasahi tenggoorokan yang kering. wajah-wajah lelah para penikmat Bromo terlihat, sesekali kami menyapa hanya untuk menguatkan diri, bahwa kita bisa mencapai puncak. perjalanan kamipun lanjutkan dengan keyakinan. anggota keberangkatan kami ada 5 orang yang berasal dari Bojonegoro harus berpencar mengikuti kemauan hati. ada yang sudah didepan, ada yang dibelakang bahkan ada yang harus bingung untuk buang hajat. maklum digunung Bromo minim banget toilet umum.

Sampai sudah di undakan tangga menuju ke Kawah Gunung Bromo. dua lajur yang penuh dengan pasir hitam menjadi sebuah tantangan perjalanan ini. nafas mulai tersengal-sengal. beberapakali harus merapat kepinggir untuk mengatur nafas dan meneguk air minum yang aku beli. untuk memotivasi diri tak jarang aku terus melihat wajah-wajah pendaki lain yang menatap kosong keatas puncak.

Titian anak tangga menuju Kawah Gunung Bromo

gemuruh suara Gunung Bromo mulai menciutkan nyali, seakan menggertak dan menanyakan “beranikah kau, jika aku muntahkan batu-batu sebesar kepalamu. apa engkau sanggup lanjutkan perjalananmu?”. aku hanya diam dan melihat wajah-wajah pendaki yang turun penuh dengan gembira. akupun lanjutkan perjalanan untuk bisa melihat pusat asap Gunung Bromo.

Sampai sudah aku di puncak bibir kawah Gunung Bromo. seperti cawan yang berlubang menganga. suaranya seperti jeritan-jeritan bercampur getaran-getaran seakan mau meluluhlantakan dindingnya. membuat jauh rasa ini melayang sampai kecerita-cerita dimana masa kecilku tentang ngerinya Neraka.

Berpegang pada pagar-pagar dengan tangan gemetar, sesekali kulihat asap berputar dan naik menjulang disertai suara-suara seperti Betara Kala yang mau makan korbannya. Astaghfirullah…. Subhanallah… Dzikir menguatkan kalbuku. sepertinya tidak akau sendiri yang rasakan, banyak wajah-wajah pucat pasih entah karena kedinginan atau ketakutannya disituasi ini.

Kami Bisa : Dari kiri Iwan Siswoyo, Rifaun naim, Didik Jatmiko, Rasidin, Selamet (Depan)

Dalam perenungan dibibir Kawah Gunung Bromo. aku sadari perjalanan hidup perlu adanya sebuah impian untuk menapaki sebuah puncak kesuksesan. tak mudah perjalanan itu, penuh liku dan ujian. sesekali kita dibimbangkan, sesekali kita butuh motivasi dari orang lain. belajar adalah bekal dari kehidupan. setibanya diatas kesuksesan kita akan penuh dengan pertanyaan. salah satunya “apa yang engkau cari dari kehidupan ini?”.

Wallahua’lam bishowab.

(*Perjalanan sepulang dari Pekan KIM IX Jatim 2017. Minggu 17 September 2017. Bersama Rifaun naim, Rasidin, Didik Jatmiko, Selamet.

Updated: September 20, 2017 — 4:03 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kim Deru Maju © 2017 Frontier Theme