Dari Oprak, Mercon, colok-colok malem sanga sampai Oncor

Tong-tongan

Sebuah seni tabuhan yang biasanya berkumandang ketika bulan Ramadhan tiba, kususnya waktu sahur. di Desa Deru seni ini disebut oprak, ditempat lain disebut oklek dan tong-tong klek. ditanah jawa sendiri banyak penyebutan suatu benda muncul karena suaranya, termasuk oprak ini.
Oprak sendiri perpaduan alat musik seadanya. artinya disini dijumpai peralatan musik yang dibuat sendiri dari bahan yang ada disekitar. seperti” tong-tongan” bahannya dari pohon bambu satu ruas dan di lubangi bagian sisinya. dari suara yang dihasilkan terbentuk tergantung dari diameter bambu sendiri. semakin besar diameter, semakin low atau ngebas suaranya. ada juga brungki yaitu alat yang terbuat dari akar pohon bambu. menghasilkan suara yang khas disebabkan karena lubang di sisi atasnya. untuk sekarang jenis tabuhan ini jarang dijumpai. ada lagi tangki jerigen yang fungsinya seperti drum atau bedug. dan biasanya penutup jerigen dibuka agar suaranya keluar. dan yang terakir biasanya sebagai pemanis. suara “ting” ini muncul bisa disebabkan dari benda yang berbahan besi. bahkan ada juga terbuat dari baut besar di tali setelah itu di pukul. semua alat tersebut biasanya dipukul sesuai dengan perasaan masing-masing tanpa ada komando.dan hasilnya cukuplah untuk membangunkan warga.
era tahun 90an di Desa Deru bisa dijumpai 1 sampai 2 group yang berkeliling. semua itu muncul atas dasar keinginan pribadi masing-masing. setelah hampir imsak merekapun bubar dan pulang kerumah karena orangtua mereka sudah menunggu. setelah imsak mereka kembali ke langgar atau mushola, setelah subuh usai pada pagi harinya mereka jalan-jalan kearah selatan sampai Desa Ngampal. bahkan tidak hanya anak-anak tetapi dewasa sampai orang tuapun banyak dijumpai.
ketika jam 7 pagi mereka harus sekolah, walaupun ada yang tidak sekolah karena mereka sudah bekerja sebagai pangon (penggembala) seperti alm sukar. dan sepulang sekolah banyak di jumpai anak-anak pengoprak ini menunjukkan hobi yang lain seperti bermain mercon atau petasan. jenis petasanpun macam-macam, tapi untuk siang hari kebanyakan berbahan pentul korek api. jenisnyapun cukup banyak ada yang berbahan dari ruji, dop sepeda dan busi. cara penggunaannyapun bervariasi. dari yang pukulkan kelai seperti memalu, ada pula yang dilempar keatas dan di beri rumbai dan meledak ketika menyentuh lantai. selain itu juga ada yang dimodifikasi seperti pistol. “dar der dor ” walaupun kadang kena marah sama tetangga.
tidak berhenti di siang hari pada sore harinya sambil menunggu buka puasa, banyak juga dijumpai petasan atau mercon bumbung yang terbuat dari bambu yang sudah lubangi ujungnya. dengan gaya seperti meriam dan berisi minyak tanah setelah itu disulut api. berkembangnya waktu ada yang berbahan karbit dan air setelah itu disulut. luar biasa suaranya kadang sampai berkilo-kilo meter. hal inipun kadang menjadi persaingan antar kelompok anak-anak. selain itu juga ada yang berjenis mercon pawon (ditanam didalam tanah dan ada lubang diatasnya dan disulut.
Satu lagi yang hampir terlupakan adanya adat colok-colok malem sanga, dimana sebuah acara kirim do’a yang dilakukan oleh lingkungan sekitar sembari membuat hidangan kenduri dengan menu apem kususnya. selain itu dipasangkan obor di sekitar rumah. yang menurut cerita mbah untuk menerangi bagi para leluhur yang akan pulang. he he he boleh percaya boleh tidak memang ini adat tidak perlu didebatkan. dan pada saat itu banyak anak-anak yang membawa oncor atau obor untuk bermain sama teman. dilain sisi malem songo juga waktu yang tepat untuk menikahkan putra dan putrinya.
seiring berjalannya waktu malam hari rayapun sudah tiba. disini banyak dijumpai takbir keliling. selain membawa alat oprak mereka juga memadukan dengan mercon bumbung sambil ditautkan dipinggang. suasana terlihat semarak karena banyak juga yang membawa “oncor” atau obor, maklum listrik belum masuk Desa. selain itu juga ada atraksi dari anak-anak yang sudah dewasa dengan menyemburkan minyak tanah dari mulutnya ke obor. walaupun jujur acara ini rawan sekali terjadi keributan. pengalaman penulis waktu kecil sendiri melihat dengan jelas ketika rombongan takbiran anak-anak Deru timur yang melebarkan wilayah keliling ke Deru barat. hampir saja terjadi perkelahian. “he he he biasa anak muda” kata mereka.
pagi pun menjelang suara takbir terus bergemuruh banyak sekali masyarakat yang sudah berbondong-bondong membawa tikar menuju lapangan Desa yang saat ini Yayasan Darussalam untuk melaksanakan sholat ied. sepulang dari sholat hari raya baju barupun dipakai dilanjut sungkem ke Orang tua, Mbah, tetangga atau kerumah teman.
itulah sekelumit cerita dari pengalaman penulis pada era 90an, untuk yang punya pengalaman lain silahkan koment….. (Kang Iwan).

Kontak Kami

Admin KIM Deru maju
Jl. Dharma Bhakti Gg. Jaga baya No 110 Desa Deru Kec. Sumberrejo. Kab. Bojonegoro Jawa Timur. 62191
Telp/Sms/Wa 081554793036

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.