Tumpangsari Sebagai Alternatif Bertani

Oleh : Iwan Siswoyo

Semarang (10/12) kimderumaju.com – Pada perjalanan naik kereta antara Bojonegoro ke semarang, saya banyak jumpai lahan-lahan persawahan dengan sistem “Tumpang sari”. Sebuah sistem yang mengkolaborasikan dua tanaman atau lebih dalam satu lahan.

Sistem ini pernah saya baca di sebuah majalah “Tilik Desa” yang diterima Almarhum Bapak setiap bulannya dari kantor desa. Majalah yang diterbitkan oleh Pemprof Jatim era Pak Soelarso dan Pak Basofi Sudirman ini kontennya tentang pertanian dan usaha kecil menengah, tapi sayang sekarang sudah tidak terbit.

Kembali ke sistem tumpang sari. Sebuah lahan akan terbagi-bagi petakannya. Bisa memanjang dengan ketinggian yang berbeda.
Nah kemarin para petani di Jawa tengah mengkombinasikan padi dan jagung, beberapa petakan sedang diolah tanahnya dengan traktor, sedangkan jagung hampir berbuah.

Dapat dibayangkan dengan sistem ini petani tidak harus menunggu tiga atau empat bulan untuk me”megang” uang. Bahkan bisa dua bulan sekali panen dengan komoditi yang berbeda. Belum lagi kalau petani punya hewan piaraan yang dapat makan dari batang padi atau jagung setelah panen.

Menurut catatan di wikipedia sistem tanam tumpang sari

  1. Hasil panen pada lahan tidak luas bisa beberapa kali dengan usia panen dan jenis tanaman berbeda,
  2. petani mendapat hasil jual yang saling menguntungkan atau menggantikan dari tiap jenis tanaman berbeda dan,
  3. risiko kerugian dapat ditekan karena terbagi pada setiap tanaman.

Kelihatan teoritis memang, tetapi ini akan sangat baik bila dicoba di Bojonegoro. Tetapi siap jadi bahan ketawaan tetangga. 😁

#ayobertani
#derumaju

Updated: December 10, 2018 — 9:41 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

KIM DERU MAJU © 2019 Frontier Theme