Desa Tanjungharjo Bangkitkan Seni Musik “Lesung”

Para Ibu-ibu memainkan lesung Jumenglung dengan harapan mampu terangkat lagi kearifan lokal
Para Ibu-ibu memainkan lesung Jumenglung dengan harapan mampu terangkat lagi kearifan lokal

Pewarta : Nasrulli

Kapas (10/09) kimderumaju – Seperti tak ingin tenggelam oleh jaman, Desa Tanjungharjo Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Jawa Timur membangkitkan kembali Budaya yang pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka. Sejumlah Ibu-ibu nampak antusias mengangkat dan memukulkan “alu-alu” (Kayu berbentuk silinder panjang dan tumpul) pada “Lesung” (Kayu berbentuk menyerupai prahu). ketika kedua benda ini berbenturan dapat membunyikan suara unik.

Hal inilah yang saat ini ingin dibangun kembali oleh Warga ini. seperti diketahui para pendahulu telah meninggalkan adat dan norma kehidupan yang berbudi luhur. Nilai-nilai yang mereka tinggalkan disampaikan melalui produk seni dan budaya. Termasuk seni musik lesung. Jenis musik perkusi bagi kehidupan masyarakat agraris.

Bunyi-bunyian tersebut kemudian diramu menjadi lagu. Terdapat lagu-lagu khas pada musik lesung. Ada yang berjudul jangan menir. Ada pula yang berjudul bluluk ceblok. Sesuatu yang sangat akrab dengan masyarakat desa.
Tidak diketahui secara pasti kapan tradisi musik lesung dilahirkan. Seperti di Desa Tanjungharjo Kecamatan Kapas. Gerusan zaman membuat musik lesung di kampung salaknitu tidak punya generasi. Satu-satunya yang masih eksis adalah grup musik lesung Jumengglung. “Sangat jarang ada panggung yang disediakan untuk musik lesung. Yang bisa kita lakukan biasanya pada moment perayaan kemerdekaan seperti saat ini,” ujar pelestari musik lesung, Fahrur Rozi.
Dirinya mengaku prihatin jika musik lesung harus hilang ditelan zaman. Dia mengatakan pemain musik lesung biasanya adalah perempuan. Terdiri dari 5 hingga 7 ibu-ibu dengan alu di tangannya. Hal ini tak lepas dari ajaran agama, bahwa penyangga agama dan negara adalah perempuan.
Keprihatinan Fahrur berawal dari satu bibinya yang merupakan pemain musik lesung. Dibutuhkan ketelitian, imbuh Fahrur, dalam menabuh alat dari kayu jati itu. Masing-masing penabuh memainkan ketukan dan tempo yang berbeda.

Kedepan dirinya hendak mempersiapkan para pemuda agar mau belajar. Karena jika tidak ada penerus musik tradisional tersebut bisa lenyap. Dan dibutuhkan kolaborasi dengan alat musik lain agar musik lesung penyajiannya lebih menarik. “Beberapa lagu khas lesung sudah kita inventarisir. Kami masih berupaya melibatkan pemuda agar sajiannya kian menarik, misalnya dikolaborasikan dengan keyboard, gitar dan kontrabas,” sambung Fahrur Rozi.
Fahrur Rozi beranggapan bahwa musik lesung adalah produk nyata peradaban desa. Dan jika dikemas dengan baik dan menarik, bisa jadi dapat membuat desanya dikenal dunia. (*/rul)

Kontak Kami

Admin KIM Deru maju
Jl. Dharma Bhakti Gg. Jaga baya No 110 Desa Deru Kec. Sumberrejo. Kab. Bojonegoro Jawa Timur. 62191
Telp/Sms/Wa 081554793036

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.