Lembayung

Oleh : yorie anggara

Lembayung duduk ber-enam di atas rerumputan taman kota mimijagra, di bawah pohon trembesi menghadap air terjun yang berada di seberang sungai . Mayang, Manggar, Melati, Jembie, Aschem, tidak jauh dari bundaran air mancur dan batu besar bertuliskan; “Taman kota mimijagra”. Taman ini dibangun disediakan ruang bagi jiwa, tempat tetirah, menirahkan hati untuk kembali menyatu dengan alam.
Deburan air yang jatuh ke permukaan sungai, gemericik air dari bundaran air mancur, suara-suara serak monyet monyet yang bergelantungan diatas dahan, diiring nyanyian burung burung pekicau, burung tekukur, suara alunan burung perkutut, suara derai panjang burung manyar, suara cicit burung pipit, suara gelathik, tiupan terompet burung betet, suara kokok ayam hutan, suara gemerisik angin kemarau menerpa pepohonan, bak simponi alam mengalunkan tembang kasmaran meninabobokan hati resah, gundah gulana, menuntun menghirup nafas udara segar air surgawi.
“Tebing itu tigginya tidak kurang dua belas meter, membentang lima puluh meteran begitulah. Tebing itu dibangun dua tahun lebih tua dari taman ini. Seperti yang kalian lihat tadi, pada dinding tebing belakang ada relief yang menggambarkan propil-propil tokoh pejuang, pahlawan-pahlawan daerah, dan orang nomor satu. Kisah ceritera di mulai dari perang diponegoro sampai air terjun itu dibangun” Lembayung bercerita begitu sambil memandang kearah air terjun. Pada saat yang sama, pandangannya tertuju ke arah beberapa ekor monyet yang turun dari pohon asam tidak jauh dari posisi mereka duduk ,dan lanjutnya;
“Beri mereka kacang tanah atau pisang yang kalian bawa, kalau nanti mendekat kesini, monyet monyet itu sangat jinak, kasih saja makanan kesukaannya, tentu dia menyambut dengan sangat senang, kalian nggak usah takut.”
“Iya bu.” Manggar menimpali sambil jemari lentiknya membuka resleting tas birunya. Mengeluarkan sebungkus plastik kacang tanah rebus. Sementara Mayang ikutan membuka tas dan mengeluarkan pisang raja.
“Aku mau memotret burung bangau yang menangkap ikan dengan parung panjangnya di pinggir sungai ” berkata begitu Jembie lalu berdiri trus beranjak pergi menuju tepian kali bersama Melati.
“Jem, aku mau memotret kupu kupu, kumbang, dan burung kolibri yang sedang menghisap madu”.
“Oke. Berbagai macam jenis bunga ada disini. menakjubkan. barbagai speisis kupu kupu pun berdatangan mencari madu”.
Bunga ditanam dalam pot-pot berjajar sepanjang tepian sungai sebagai pagar berbunga.” komentar Jembie terpesona .
“Nanti temani saya diujung sana, aku kepingin motret bunga matahari”.
“Siaap tuan putri. Mel, lihat, sepasang pelikan tampak bersahabat dengan bangau dan kuntul kuntul berbarengan, berkaborasi menangkap ikan. Aku akan mengabadikan dalam vidio satwa langka ini”. Melati tidak menghiraukannya ia sedang fokus membidik burung kolibri menghisab madu madu bunga.
Beberapa saat kemudian, Melati menunjukan rekaman vidionya. “Jem, lihat nih, aku berhasil memotret burung kolibri sedang menghisap madu”.
“Warna bulu yang indah biru kehijauan”. Jembie menyanjung Melati.
“Pelikan itu burung imigran dari benua Australia.”
“Benar Mel ”
Matahari sedikit condong ke barat. Udara semakin terasa gerah. Ber enam nereka berjalan menyusuri jalan setapak diatas hamparan hijau rerumputan.
“Lihat itu, rusa rusa pada turun ke kali, udara panas membuat mereka kehausan” Lembayung menunjuk sekawanan kijang melumpat dan menerobos tanaman bunga menuju ke tepian sungai.
“Jadi ingat di Kebun Raya, waktu kecil aku pernah kesana hanya ingin melihat rusa.” celetuk Mayang.
“Benar, di kebun raya banyak rusa dan kijang. kapan kapan kita kesana, sekalian melihat bunga bangkai raksasa.”
Anak anak menunjukan wajah senang mendengar ucapan Lembayung, yang tangan kanannya menempel pohon sebesar pelukan orang dewasa.
“Ini pohon elo namanya. Pohon yang hidup sejak ratusan tahun tumbuh di tepian sungai yang akarnya kokoh mencengjeram tanah menahan erosi. Seperti halnya pohon ingas yang disana itu, pohon waru, pohon randu alas, pohon sewel kotil, rumpun bambu, pohon pohon ini oleh alam dijadikan penahan abrasi”
Lembayung menunjuk pohon cemara udang yang ditanam berjajar di bibir taman depan di sisi kanan kiri gapura.
Di bawah pohon cemara bertengger tulisan taman kota bermotif aksara jawa. Besar dan tinggi berwarna merah dembaga. Sisi kiri gapura ; Taman Kota, sebelah kanan gapura Mimijagra. TAMAN KOTA MIMIJAGRA.
Mimijagra, bundaran air mancur, sejatinya melambangkan kota karisidenan ini. Mangkuk besar dari tembikar, penampung air, di tengahnya berdiri tonggak jati, diatas tonggak jati bejana berbentuk piala. Ini semua lambang kota Mimijagra. Kota minyak, kota jati, dan kota gerabah.
“Mimi kependekan dari minyak bumi, Ja, adalah jati, gra, ialah gerabah. Nenek saya dulu perajin gerabah yang misuwur.” Ascem mengakhiri dongengnya, tersenyum kecil pada Mayang. Mayang mengimbangi senyum cowok pendiam idolanya sejak klas sembilan Pengunjung tidak begitu banyak hanya ada beberapa mobil diparkir di sana. Aschen dan Mayang menuruni undakan pintu taman bergegas menuju tempat parkir mengambil mobil .
Menjelang Asar mobil memasuki pintu gerbang asrama anak didik luar kota dari golongan keluarga ekonomi lemah , dan guru bujangan.

xxx

Malang juli 19

Updated: July 23, 2019 — 9:09 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.