Mimpi Suto

Oleh : Yorie Anggara

Dan..,mimpi Suto menjadi kenyataan. Anak bungsunya masuk sekolah favorit tanpa sarat.
jam 11.30, Menjelang siang hari seperti ini, biasanya Suto masih menyusuri tepian bengawan dengan glangsing besar bergayut di punggungnya. Bak seorang ninja, di tangan kanannya memegang pengkais dari beton eser sepanjang 1m. Capeng lebar melindungi kepalanya

langkahnya pasti menuju titik-titik pembuangan sampah liar di bibir bengawan, yang masih banyak dilakukan masyarakat padesan bantaran sungai . Justru ini adalah ladang subur bagi Suto mengkais rejeki sebagai seorang pemulung, yang digeluti sejak lama. Belum lagi sampah yang di bawa arus air ketika pasang, dan nenumpuk dipinggiran kali saat air surut.
Menariknya lagi berkutat di tepian bengawan, jika tiba musim kemarau seperti sekarang ini. Krai, semangka tumbuh tanpa tuan, atau buah ceplukan sahabat kental Suto menghilangkan rasa haus serta menyegarkan tubuh dari kelelahan di siang hari yang panas.
Satu lagi keuntungan di bengawan buat Suto, Pada awal-awal musim penghujan tiba, mendadak air pasang. air yang semula bening hijau kebiruan berubah menjadi coklat kemerahan. akibatnya ikan-ikan pada mabuk. Oleh masyarakat disebut pladu, wabah tahunan ini hampir semua jenis ikan mabuk. dari ikan wader sampai monster bengawan yaitu ikan jambal yg bobotnya mencapai kisaran 20 kg.
Suto tidak menyianyiakan kesempatan emas itu. Ia pun serta merta cancut tali wondo turun ke sungai ramai ramai ikut menangkap ikan. hasil tangkapannya kemudian di jual. Perolehan hasil penjualan ikan bisa dua sampai tiga kali lipat dibanding mengkais sampah.
Siang ini, Suto tidak sedang makan buah kerai, semangka, atau buah ceplukan yang ranum, dibawah pohon waru melepas lelah. Hari ini Suto duduk berdampingan dengan Sutie istri terkasih, bersama puluhan undangan lainnya di sebuah AULA gedung ber AC lantai dasar di sebuah sekolah SMA favorit di kota, dimana Suto tinggal . Dan, tahun ini adalah tahun emas bagi Suto sekeluarga sepanjang sejarah hidupnya sebagai kawulo alit, lantaran anak gadis bungsunya hari ini diterima masuk di sekolah kenamaan, sekolah unggulan, yang bagi kalangan masyarakat bawah, untuk dapat menyekolahkan anaknya hanya merupakan sebuah mimpi. Namun sekarang mimpi itu benar benar jadi kenyataan.
Dengan khitmad Suto dan Sutie mendengarkan pidato pencerahan tentang perubahan nilai tatanan sistem pendidikan di negeri ini. Salah satunya adalah sistem penerimaan siswa didik baru dengan ; istilah Zonasi. Rayonisasi, Kewilayahan. Kepala sekolah dalam kesempatan temu wali nurid didik baru juga menjelaskan dengan gamblang apa kewajiban orang tua wali untuk memenuhi kebutuhan anaknya memasuki ajaran baru di sekolah ini. Antaranya ; membayar uang untuk kartu pelajar, seragam sekolah, Untuk laptop diharapkan paling lambat triwulan pertama siswa sudah harus memiliki.
Disinggung pula tata tertib sekolah. Pertama; bagi anak didik yang belum usia 17 th dan belum memiliki SIM, tidak boleh membawa kendaraan bermotor sendiri. Kedua tidak masuk sekolah selama tiga hari harus membawa bukti surat dokter kalau siswa sakit. Ketiga; anak telat lima menit sebelum jam mata pelajaran dinyatakan Alpa.
***
Malam luruh, musim dingin membuat udara terasa beku, dingin merasuk ke tulang sumsum.

Suto mengabaikan semua itu. Habis sholat subuh, minum secangkir kopi plus dua potong ubi jalar, ia pun menerobos udara pagi yang semakin dingin. Mengayun langkah lebar bergegas menuju rutinitas keseharian.
Di bibir laki-laki menapaki tengah baya ini tersungging senyum. Senyum kebanggaan, terlepas anaknya masuk SMA favorit, ia sangat bersyukur, dengan pekerjaannya yang hina, tapi mulia ini, saat anaknya membutuhkan biaya untuk meneruskan jenjang pendidikan lebih tinggi, dirinya masih mempunyai simpanan uang yang cukup buat bayar seragam, kartu pelajar serta beli laptop anaknya.
Menjelang tengah hari, seperti hari sebelumnya Suto melepas lelah di bawah rimbun pohon waru di tepian sungai.
“Kamu kelihatan bahagia sekali hari ini Sut..,” sindir Pongge sambil mengunyah buah kerai muda.
“Apa ada yang beda hari ini menurut pandanganmu pada tingkah lakuku ?”
“Ya. Kamu kalihatan ceria dan bahagia sekali !”
“Sesuatu memang gak bisa disembunyikan ya Pong, susah ya nggak bisa disembunyikan suka begitu pula”.
‘” Fitri masuk di sma ya? sekolahnya anak orang berduit dan terhormat”. Pongge coba menerka refleksi keceriaan wajah sahabatnya .
“Siip seratus! Ayu anakmu juga masuk di sma X to, rumahmu kan di wilayah sana?” jawab Suto sambil balik bertanya. Antusias sekali sambil mengacungkan jempol tangannya kearah laki-laki buncit dan berkulit legam yang bernama Pongge sahabat karibnya sejak SMP.
“Benar. Tapi Sut, kemarin, sepulang dari sekolahan aku dan istriku tambah sedih.”
“Nyantai saja Pong, kita mestinya bangga anak anak kita sekarang bisa masuk sekolah unggulan, yang dulu bagi kita hanya merupakan mimpi belaka”. Suto coba memberi suport pada sahabatnya. “Uang bisa dicari”. lanjutnya. Pongge memandang Suto dengan pandangan memelas, lalu katanya lebih memelas lagi .”Bagaimana tidak sedih,untuk membayar seragam dan kartu pelajar saja gak ada uang sepersen pun, apalagi membeli laptop”. Pongge menunduk lesu.
“Ya, tapi kamu gak boleh terus nglokro begitu, kamu mesti tetap semangat.” Suto menepuk pundak sahabatnya. keduanya saling membisu. Beberapa saat kemudian, Suto mengatan, kalau dirinya sanggup meminjami uang buat membayar seragam dan kartu pelajar. Sedang masalah laptop, nanti bisa mengambil di pak Burham dengan mengangsur tiap bulan. Kebetulan Bima anak Suto yang pertama jadi karyawan disana.
Mendengar tuturan seperti itu mendadak udara panas kota minyak ini jadi sejuk, mendung gelap di dadanya tersibak. Di peluknya tubuh Suto Air mata pun menggenang di pelupuk matanya.
“Makasih Sut, makasih banyak lega rasanya, palu godam yang menindih di dadaku serasa kau angkat,”.
” Sama sama Pong, yang penting kamu semangat”. ditepuk tepuknya pundak laki-laki beranak dua ini cukup keras.
****
Tiga tahun kemudian dua SMA, SMA Y dan SMA X setiap tahun menelorkan anak anak ber reputasi tinggi. Masuk PTN tanpa tes, atau karya tulisnya, mendapat penghargaan dari pemerintah daerah. Olah raga, seni budayanya pun jadi duta ke tingkat nasional mewakili kota kabupaten. Tahun ini Ayu dan Fitri masuk dalam anak unggulan. Tidak saja keduanya masuk rating PTN tanpa tes. Karya tulis ilmiahnya mendapat anugerah penghormatan dari Bupati (atas nama pemerintah daerah).
Oleh pemerintah daerah, Ayu dan Fitri mendapat bea siswa ke perguruan tinggi.
Ayu mengangkat topik budi daya tanaman dalam pot dan chustum anak, mengantisipasi epidemi demam bardarah. Sedang Fitrie mengangakat topik bertajuk upaya melestarikan ikan bengawan. (*

Malang:30619

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.